banner image
banner image

HIDUP MANDIRI AWAL DARI KESUKSESAN



Desa yang berada di antara gunung  dan laut ini memiliki alam yang subur. Udara begitu asri, ketenangan dapat kita peroleh disini. Maklum saja desa ini terletak di pegunungan yang jauh dari kebisingan warga kota, dan terbebas dari polusi udara. Tekstur tanah yang tepat untuk ditanami berbagai jenis bahan pokok dan tanaman pancaroba lainnya membuat tak hanya para lelaki desa yang akan bekerja di sawah, para wanita juga ikut andil dalam pengolahan lahan mereka.
Mentari yang terbit di pagi hari menerobos jendela kamarnya. Terdengar suara ayam berkokok petanda pagi sudah tiba. Udara pagi menembus pori-pori. Tetesan embun terlihat disela-sela dedaunan. Terbangun dari mimpi indah, bergegas menyambut hari yang cerah. Seraya bersenandung, pria berambut pendek separuh ikal ini pun mengambil handuknya dan menuju kamar mandi. Sambil berlalu, aroma masakan ibu menyeruak dihidung. Di dapur mungil terlihat ibu sedang menyiapkan sarapan. Melihat rona wajah anak laki-lakinya berseri, ibu pun tersenyum lembut kearahnya.
Lelaki yang berasal dari Pidie ini memiliki tinggi badan 170 cm dan gemar meliput berita, browsing di internet dan jalan-jalan. Dengan melihat wajahnya saja, banyak orang menafsirkan ia berasal dari negeri Bollywood-Hindia. Karena kulitnya yang identik hitam legam serta berewokan membuat ia ‘sama tapi tak serupa’ dengan actor bollywood yang kita tonton dilayar kaca.
Seperti mahasiswa lainnya pria kelahiran 26 September 1990 ini, ia hidup di perantauan jauh dari ibunya. Banda Aceh menjadi modal nekat untuknya berjuang hidup. “Saipol” begitulah ia disapa dalam keseharian oleh teman-temannya. Ia selalu tampil energik dan periang di kampus.
“Berakit-rakit dahulu berenang-renang kemudian,” mungkin pepatah ini dapat mewakili kisah hidup Saiful Anwar. Pria yang senang makan bakso ini merupakan anak tunggal dari pasangan (alm) Abdul Razak dan Habibah. Tahun 1994, ketika itu Saipol berumur empat tahun menjadi lembaran awal kesedihan bagi pria penyuka warna hijau ini. Ayahanda tercinta berpulang ke Rahmatullah. Meninggalkan isteri dan anak ‘semata wayang’ serta sanak famili terdekat. “Mamak pernah berpesan setelah abu tiada, Saipol harus bangkit dan melanjutkan hidup,” tegasnya dengan pandangan nanar menatap jauh kedepan. Memang tak mudah bagi kita untuk menggapai cita-cita yang kita gantung di langit. Tidak semudah kita membalikkan telapak tangan dalam sekejap. Dan setiap kita harus bisa menerima. Siap untuk gagal dan siap juga untuk berhasil.
Kisah hidup didunia nyata. Memang tak seindah cerita dongeng yang akhir kisahnya ‘happy ending’. Namun, sekali lagi Saipol harus tegar. Pahitnya hidup harus dikecapnya. Manisnya kehidupan harus ia syukuri. Saipol berusaha menjalani hidup untuk lebih baik dari sebelumnya. Dengan menjadikan kekurangan sebagai kekuatan untuk bertahan hidup. Kelebihan dan bakat diri semakin hari semakin ia kembangkan. Hal ini dibuktikannya dengan bergabung Muharram Journalism College (MJC) tahun 2011. Ia bertemu teman-teman baru dan bisa dikatakan keluarga baru. Pria dengan kelebihan lemak ditubuh ini tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. 

Saipol amatlah di sayang sama ibunya. Saat saya menayai tentang kehidupannya. “Hal apa yang membuat Saipol bisa menjadi seperti sekarang ini?” Lalu ia menghela nafas panjang dan langsung bercerita tanpa berkata apa-apa lagi. “Sebenarnya Saipol jadi seperti sekarang ini adalah karena ibu.” Lalu langsung ia bercerita dengan panjang lebar. Saipol amatlah di sayang sama ibu karena merupakan anak tunggal dari orang tuanya. Ibu merupakan satu-satunya tempat penompang hidup selama ini. Saipol mengungkapkan bahwa ibu tak pernah ada kata lelah untuk mengurusi Saipol. Beliau selesai shalat subuh langsung bergegas menggunakan baju plastik dan mulai berangkat mencari tiram di tambak atau rawa untuk bisa makan. Ia juga berkata bahwa rumah yang ia huni itu sangat tidak layak pakai. Namun walaupun begitu ia hidup bahagia bersama ibunya.

Melihat ibunya bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia merasa sangat sedih, namun apa boleh buat takdir menentukan begini. Walapun udara di pagi hari sangat dingin menusuk ketulang, namun beliau tidak menghiraukannya sama sekali. Karena kerja kerasnya sehingga ibu terlihat sangat kurus. Pada malam hari ibu juga sering menyuruh menggosok minyak di badannya. Walaupun tidak mengatakan kepada anaknya bahwa ia sangat lelah dan badannya pegal-pegal namun ia bisa merasakan apa yang di rasakan ibunya. Menjadi seorang pencari tiram tidaklah mudan karena resikonya sangat tinggi. Bahkan ia sering melihat tangan ibunya terluka terkena pisau sewaktu mencari tiram di tambak atau rawa. Pengorbanan ibu kepada anak sangat luar biasa. Selain mengandung dan melahirkan beliau juga yang menafkahinya lahir dan batin. Tidak akan sanggup membalas jasa kedua orang tua apalagi jasa seorang ibu. Semoga kita tidak pernah menyakiti hati ibu dan termasuk orang-orang yang patuh kepada kedua orang tua. “ibu kau bagaikan cahaya bagi diriku di saat suasana gelap” tangkasnya sambil melihat ke depan dan tersenyum. Seakan-akan ibunya berada di depannya pada saat itu.
Tiba-tiba ia di kejutkan oleh seorang laki-laki dari belakang. Dengan gayanya seperti seorang polisi tak lain adalah Asrin yang merupakan kawan seruangnya. Lelaki yang kulitnya sawoe matang ini mengatakan, “kalheu kapeuget tugas konsep iklan pul?” Ia berkata sambil melihat ke arah Asrin “siat teuk wate woe kuliah ku peuget”. Lalu laki-laki selalu berpenampilan rapi ini mengatakan, “oh loen meujak u pustaka meu cari bahan” sambil tersenyum kepada saya ia menuju ke pustaka. Lalu Saipol melanjutkan ceritanya yang sempat terputus tadi.
Empat tahun setelah kepergiaan ayahnya. Ibu ingin menikah lagi dengan seorang duda, tentunya ada sandaran harapan bisa membantu kesulitan ini. Akhirnya Saipol dan sanak keluarganya pun mengijinkan ibu menikah karena usia beliau yang masih muda berharap semoga bisa membantu kehidupannya. Namun harus di garis bawahi, ayah kandung tidak akan sama dengan ayah tiri. Berharap bisa hidup menjadi senang dengan kehadiran seorang ayah. Ia juga memiliki seorang kakak dari anak ayahnya, sebut saja kakak tiri. Ayah dan ibu sangatlah menyayangi kami berdua sehingga sudah seperti saudara kandung sendiri. Walaupun ada perselisihan paham antara ayah tirinya dan Saipol. Namun diantaranya selalu ada pertengahan yaitu ibu.
Walaupun sudah ada yang menafkahi kami. Namun ibu tetap juga bekerja untuk dapat membantu kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ayahnya berprofesi sebagai pelaut jarang berada di rumah. Kadang-kadang ia pulang sekitar dua minggu sekali kerumah, itu pun tergantung dari hasil tangkapan ikan di laut. Selain bekerja ibunya juga harus mngurusi keluarganya seorang diri. Karena terlalu kelelahan ibunya jatuh sakit. “Saya pikir ibu hanya sakit biasa namun ternyata sakitnya berlanjut hingga berbulan-bulan,” tuturnya. Sehingga ia membutuhkan uang untuk bisa membawa ibunya ke rumah sakit.
Karena tidak ada uang akhirnya ibu dibawa kerumah nenek dengan harapan saudara-saudara yang tinggal dikota mau membantu. Namun apa yang terjadi tidak ada yang mau membantu. Mereka beralasan bahwa mereka banyak tanggungan dan tidak bisa membantu ibunya. Diantara saudara-saudara kandung ibunya, cuma beliau yang nasibnya tak seberuntung saudaranya yang lain. Terpaksa ibunya harus berobat ke tabib dengan obat tradisional. Walaupun sudah di kasih obat sama tabib namun ibunya juga tidak kunjung sembuh malah merasakan tambah sakit.
Sebagai seorang anak ia tak pernah putus asa dalam mendo’akan kesembuhan untuk ibunya. Lantunan surat yasin selalu di bacakan disaat ibunya sedang sakit-sakitan. Alhamdulilah berkat do’a, ibu pun perlahan mulai membaik kondisinya. Hari demi hari ibunya terasa sehat dan hilang dari rasa sakit yang di serangnya beberapa bulan ini.
Sejak ibunya sembuh dari penyakit, beliau memutuskan untuk bekerja lagi. Namun kerjanya berbeda dari dulu yang cuma mencari tiram. Namun sekarang dengan membuka sebuah usaha jualan gorengan dan lontong di setiap pagi serta menitipkannya ke beberapa warung. Saipol sangat bersyukur dagangan ibunya semakin maju. Namun hal yang tidak di inginkan kembali menimpanya. Saipol, ibu beserta kakak tirinya harus angkat kaki dari rumah kakek dan nenek. Karena atas hasutan orang-orang yang tidak suka melihat usaha ibunya yang mulai berkembang. Dengan ikhlas dan sabar mereka pun menerima dan pindah ke sebuah rumah panggung.
Ibunya yang belum sembuh sempurna ini sering mengalami pendarahan ketika beliau melakukan pekerjaan berat tapi bagaiamanapun juga memang sudah menjadi kewajiban seorang ibu yang mengurus anaknya yang masih belum mandiri dan masih bergantung sama beliau. Walaupun ibunya dalam keadaan sakit-sakitan namun masih juga bekerja untuk menghidupi anak-anaknya. Sekalipun pekerjaan tersebut juga dapat membahayakan kesehatan beliau. Saipol merupakan anak yang selalu berbakti kepada orang tuanya, sehingga beliau ingin melihat anak satu-satunya bisa menjadi orang yang sukses. “Walaupun di sibukkan dengan pekerjaannya namun ibu tidak pernah lupa kepada Allah, selalu meluangkan waktunya untuk dapat menunaikan perintah Allah tepat waktu. Beliau adalah sosok ibu yang sangat sempurna bagi saya,” ujarnya.
Didikan beliau selama 23 tahun yang tidak ada pernah ada kata lelah agar bisa tumbuh seorang sosok pemimpin bagi bangsa. Sebagai seorang anak ingin sekali berada di dekat beliau untuk bisa menemaninya di waktu sakit-sakitan karena akibat kelelahan dalam bekerja. Namun apa daya ia harus merantau untuk sebuah cita-cita dan keinginan seorang ibu agar anaknya menjadi orang sukses. “Sebenarnya kalau bukan karena ibu, mungkin saya akan bekerja saja dan tidak kuliah lagi”, katanya. Karena tidak mau melihat beliau yang sakit-sakitan harus bekerja. Namun apa boleh buat ia harus menamatkan studinya di perguruan tinggi.
Tiba-tiba Saipol berhenti bercerita. Lalu saya bertanya, “kenapa diam pol?”. Ia menjawab “ Sebelum Saipol cerita mengenai proses masuk kuliah bagaimana kalau Saipol cerita dulu dari sekolah, gimana menurut Oja?” “Boleh banget pol” sahut saya. Kemudian ia menghela nafas dan mulai bercerita panjang lebar. Dari ceritanya penulis dapat menyimpulkan isi ceritanya dan mulai menulis di sebuah laptop sebagai berikut.
Ketika di SD ia mendapat beasiswa dari sekolahnya sampai ketika ia masuk ke MTsN masih juga mendapat beasiswa. Sekolahnya yang berada sekitar 2 Km dari rumahnya, terpaksa ia lalui dengan menaiki sepeda. Saipol harus melewati tanjakan dan jalan yang berbatu penuh semak untuk bisa sampai ke sekolah. Untuk naik bus tidak cukup karena ibu hanya bisa memberi uang jajan sebesar Rp.200 rupiah saat menduduki kelas 1 tahun 1996 selama 2 tahun. Namun semenjak kelas 3-5 uang jajan bertambah Rp 200 rupiah sehingga menjadi Rp 500 rupiah. Sedangkan saat kelas 6 tahun 2001 ia mendapat jajan dari ibunya 1.000, merupakan uang jajan terbesar bagi Saipol saat itu.
Setelah tamatan SD ia melanjutkan ke MTsN. Dsana ia memiliki pengalaman yang tidak bisa di lupakan sampai sekarang ini. Pada saat menduduki MTsN, ia pernah dipukuli oleh gurunya gara-gara membuat iseng dengan kawan-kawannya. Walaupun Saipol anak sedikit iseng namun ia juga termasuk murid yang pintar dan di sayangi oleh teman-teman serta gurunya. Pada hari memperingati kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, ia mengikuti sebuah perlombaan dan meraih juara satu. Selain itu Saipol juga tidak mau ketinggalan dalam berorganisasi sehingga ia putuskan untuk bergabung di OSIS. Disitulah ia mulai mengasah bakat dengan berakting di sebuah di drama. Dengan bergabung dalam sebuah kelompok untuk melakukan pementasan drama tentang kisah hidup Nabi Muhammad SAW. Saipol dengan percaya diri menampilkan ekspresinya di depan umum. Pernah suatu hari, ia membuat ibunya sedikit kesal dengan tingkah laku anaknya. Sesampai di rumah ibunya menasehati Saipol agar selesai sekolah langsung pulang ke rumah. Namun hal tersebut tidak diindahkan sama Saipol malah ia membantu pamannya berjualan mainan anak-anak sehingga baru sampai ke rumah jam 17:00 wib.
Pada April 2004 saat itu Saipol menduduki kelas III MTsN Kembang Tanjung. Kepala sekolah menganjurkan Saipol untuk pindah ke MTsS Al-Qamal Keunaloi, Aceh Besar. Karena pesantren tersebut lebih berkualitas dari pada sekolah dikampung. Alhamdulillah Saipol termasuk salah satu di antara murid-murid yang terpilih pada saat itu. Akhirnya mereka menerima permintaan pimpinan Dayah untuk pergi ke Pesantren Terpadu tersebut. Namun sekolah yang akan mereka masuk itu masih swasta. “Walaupun begitu kami tidak putus asa dan tetap senang dan bahagia menjalaninya,” ujarnya. Karena bagi mereka itu merupakan suatu anugerah untuk dapat belajar di kota besar. Apalagi itu merupakan sebuah pesantren yang penuh dengan didikan agama. Dan disanalah ia mendalami ilmu bahasa Arab, bahasa Ingris dan juga ilmu Komputer. Berkat do’a orangtua dan pimpinan pesantren tersebut akhirnya mereka lulus dengan nilai yang memuaskan.
Pada suatu hari, pimpinan yayasan pesantren terpadu bertemu dengannya dan beliau mengajak Saipol untuk pergi ke rumah dinas beliau di Banda Aceh. Saat itu bulan ramadhan dan mereka singgah ke tempat beliau yang berada di Banda Aceh. Bapak yang memiliki hati mulia ini menjamu mereka untuk buka puasa bersama di rumahnya. Setelah itu mereka shalat terawih bersama-sama. Sewaktu lagi duduk di ruang tamu tiba-tiba datang laki-laki dengan pakaian rapi. Lelaki tersebut merupakan ajudan beliau. Ajudan tersebut memberitahukan kepada Saipol agar mengikutinya ke sebuah ruangan. Di ruang tersebut tampak sebuah meja yang tersusun dengan map dan kertas-kertas. Di situ mereka berbincang-bincang banyak hal dan beliau juga menyedekahkan beberapa helai baju untuknya. Setelah lama berbincang-bincang akhirnya Saipol meminta izin untuk pulang karena jam telah menunjukkan pukul 24:00 wib. Tak lupa pula masing-masing dari mereka di bekali dengan oleh-oleh untuk di bawa pulang ke pesantren. Akhirnya mereka pulang ke pesantren dengan hati yang gembira.
Tanggal 26 Desember 2004 terjadinya gempa dan tsunami di Aceh. Di situ pesantren tempat Saipol belajar mengalami sedikit kemerosotan, seperti dari segi makanan dan lain-lain. Beberapa hari setelah tsunami, pimpinan yayasan mulai turun langsung melihat santrinya yang sudah kekurangan beberapa kebutuhan dan beliau juga mendatangkan beberapa relawan dari berbagai negara untuk membantu yayasan tersebut. Alhamdulillah berkat dan do’a akhirnya yayasan kembali normal lagi.
Pada tahun 2005 Saipol menamatkan MTsS Al-Qamal. Karena pada saat itu belum ada dibuka yang sederajat dengan MAN/SMA rencananya ingin melanjutkan di Kampung. “mengapa kamu tidak melanjutkan sekolah di Banda Aceh nanti bisa tinggal di rumah saya dan kamu boleh mengabdi di pesantren ini”, kata pimpinan yayasan seraya merayu agar Saipol bisa tinggal di Banda Aceh. Lalu Saipol menjawab “ Insya Allah pak, saya tanya ibu dulu karena ibu menyuruh saya untuk sekolah di Kampung”.
Akhirnya ia putuskan bersekolah di MAN Tanjong. Pada saat Saipol ingin melanjutkan sekolah MAN, ia hanya iseng meminta dan mengisi formulir pendaftaran tersebut. Karena dalam penyerahan formulir peraturanya mesti membayar dengan uang sejumlah Rp 15.000. Menurutnya hal yang sangat mustahil baginya dapat mempunyai uang sebesar itu. Tapi ia nekat menyerahkan formulir tersebut dengan alasan bahwa ia akan membayar saat memasuki Masa Orientasi Siswa (MOS).
Akhirnya atas izin Allah, panitia penerimaan siswa baru percaya padanya. Dan ia membayar uang pendaftaran dengan cicilan perbulan. Pada saat di MAN ia dibekali sebanyak Rp 2.000, itu termasuk untuk ongkos pulang pergi. Semakin kedepan maka mata uang semakin naik. Jadi makanan yang di jual juga terasa mahal bagi siswa yang memiliki jajan Rp 2.000. Sehingga ia sering kelaparan karena tidak cukup uang untuk bisa membeli makanan karena ia harus memikirkan dua kali. Dengan akal cerdiknya, ia nebeng kepada kawannya saat pulang. Sehingga uangnya bisa digunakan untuk membeli makanan. “oh iya selama di MAN Saipol aktif bermain Drama/Teater dan sering tampil di berbagai event”, katanya seraya tersenyum. Kepala sekolah amat menyayangi Saipol karena ia suka membantu teman-temannya dikala susah. Dan ia juga tidak mau ketinggalan organisasi seperti berada di MTsN dulu. Sehingga ia putuskan untuk bisa bergabung lagi dalam kegiatan OSIS.
Setelah tamat dari MAN ia sempat nganggur selama dua tahun di karenakan tidak mendukungnya ekonomi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Walaupun begitu ia tidak putus asa dan dengan sabar ia menjalani hidup serta membantu orang tuanya di kebun.
Pada suatu hari ketika sedang menanam kacang. Tiba-tiba teleponnya berdering. Saipol langsung mengangkatnya dan suara itu tak asing lagi baginya. Suara tersebut merupakan anak dari pimpinan yayasan. Dalam perbincangan tersebut ia di suruh ke Banda Aceh untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Akhirnya Saipol bercerita kabar gembira kepada ibunya dan ibunya pun memberi izin. Sesampai di Banda Aceh ia bertemu dengan anak pimpinan yayasan tersebut dan ia diberikan uang sebesar Rp 1.000.000 untuk pendaftaran. Karena kerendahan Hati beliau akhirnya ia bisa melanjutkan Kuliah sampai sekarang. Pada waktu itu pemimpin yayasan tersebut telah menganggap Saipol sebagai anak sendiri. Pada tahun 2009 beliau terpilih menjadi anggota DPR-RI. “Beliau adalah sosok masyarakat yang bisa mengayomi seluruh masyarakat, tanpa memandang pangkat dan jabatan” ujarnya.

KPI (Komuniksi Penyiaran Islam) merupakan pilihan kedua saat ia mendaftar di IAIN Ar-Raniry karena pilihan pertama adalah bahasa Arab. “Saya memilih jurusan bahasa Arab karena ibu ingin saya menjadi guru,” ujarnya. Karena menghargai ibu makanya pilihan pertama adalah bahasa Arab padahal ia dari pertama sudah tertarik di KPI. Setelah selang beberapa hari pengumuman kelulusan IAIN keluar di koran. Ia langsung meliat dengan seksama dan alhmamdulillah namanya tercantum sebagai salah satu mahasiswa yang akan belajar di Perguruan Tinggi IAIN Ar-Raniry. Ibunya juga turut bahagia anaknya bisa lulus walaupun tidak sesuai harapan ibunya menjadi seorang guru.
Sekarang ini Saipol mulai disibukkan dengan aktivitasnya bekerja di sebuah media. Dan uang dari hasil kerjanya itu ia gunakan untuk tambahan uang kuliah, memang penghasilan dari bekerja itu tidaklah terlalu banyak namun hasilnya di dapatnya bisa membantu untuk kehidupannya sehari-hari. Dari hasil bekerja di media tersebut menjadi kekuatan besar untuk meraih cita-citanya, ingin menjadi reporter yang professional yang di bantu biaya oleh orangtua angkatnya. Ia pun kuliah di jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) fakultas Dakwah yang bernaungan di bawah IAIN yang berada di Darussalam yang letaknya jauh dengan rumah tinggalnya.
Dengan sepeda motornya, ia pergi menuntut ilmu. Melewati jalan raya yang penuh dengan kemacetan , menuju ke sebuah Universitas. Bangunan yang megah tersebut terlihat asri saat memasuki perkarangan kampus IAIN. Nampak di pinggir jalam mahasiswa-mahasiswi berjalan menuju kampusnya msaing-masing. Dan juga terlihat yang mengenderai motor.
Namun pria asli Glumpang ini selalu bersyukur,walaupun gaji harian yang diterimanya lebih kecil dibandingkan rekan-rekan kerja lain. Saipol bekerja sampingan di luar rutinitas kampus “Alhamdulillah, walau sedikit asal uang yang saya dapatkan halal,” kata Saipol penuh syukur. Walau digaji kecil, ia harus tetap bekerja karena kalau tidak masuk kerja, maka harus selalu mengandalkan ibunya. “Kasian ibu sendiri di kampung cari uang banting tulang untuk saya” menurutnya tiap hari harus mengeluarkan uang minimal Rp 20.000/hari. Belum lagi uang SPP yang harus ia keluarkan setiap enam bulan sekali sebesar Rp 650.000.
Akhirnya ia mengakhiri cerita tersebut dengan wajah lelah karena sembari memasukkan laptop ke dalam tasnya. Ia mengatakan “Oja nanti Saipol cerita lagi, Saipol harus pergi karena ada janji dengan orang”. “Iya makasih banyak pol yang sudah menceritakan kehidupan Saipol dan mohon ma’af yang sebesar-besarnya mungkin menyinggung perasaan”, ucap saya. Ia menyahutnya “tidak apa-apa, Saipol senang bisa berbagi cerita dengan teman-teman. Lalu ia ke luar ruangan menuju tempat parkiran.
Walau dalam keterbatasan perekonomian keluarga, Saipol tetap bersabar dan menjalin hubungan baik dengan para tetangga atau teman. Ia tidak pernah sungkan-sungkan dalam menolong orang yang lagi kesusahan. Karena kebaikannya ini, dia dikenal banyak orang hingga lingkungannya.
Kesulitan yang dialami bukan tak ada, biaya perkuliahan yang sekarang semakin tinggi membuat Saipol sesekali kebingungan. Namun karena banyak orang yang mengasihinya sehingga ia banyak di bantu oleh kerabatnya. Sebuah perjuangan besar dan dibayar mahal oleh keberhasilan Saipol membuat ia hampir menamatkannya di sebuah universitas. Harapan dan juga cita-cita tingginya ingin ia perlihatkan kepada ibunya pada tahun 2014 kelak nanti. Dengan membawa sebuah ijazah untuk memperlihatkan kepada ibunda tercintanya.
Kesuksesan dari sebuah perjuangan besar yang hanya dengan modal kemandirian dan bekerja keras hampir mampu mewujudkan cita-citanya yang berada di ambang pintu kesuksesan. Insya Allah dengan kesabaran, ketabahan, berusaha, dan berdo’a kepada Allah maka apa yang kita cita-citakan akan dapat tercapai.Saipol yang sabar bukan berarti dia tidak pernah mengalami kegagalan. Namun ia sering mengalami kegagalan, maka dari kegagalan itu ia mulai mengambil pelajaran dan hikmah apa yang menimpa dirinya. Kegagalan merupakan sebuah sarana supaya bisa lebih kuat dan untuk terus bangkit kembali.
Diibaratkan kegagalan sebagai hujan meski hujan sebenarnya bisa membawa kepada kebaikan, dan kesuksesan sebagai matahari. Sehingga untuk bisa melihat pelangi, perlu hujan dulu yang kemudian disinari matahari. Setelah muncul pelangi semua kesedihan akan menghilang. Yang ada adalah fenomena keindahan pelangi.Cuma emang kadang sebagai manusia, kondisi down ketika gagal itu biasa terjadi.Dalam kondisi seperti itu, peran dan kehadiran seorang sahabat menjadi sangat berarti.
Sahabat yang bisa mencerahkan suasana yang meredup. Disaat kita terpuruk sahabat yang memotivasi untuk terus maju dan bangkit. Tak heran jika Saipol memiliki banyak teman. Ia dalam berkawan tidak pernah melihat gender, status, umur dan sebagainya. “Banyak kawan hidup akan mudah,” tangkasnya.
Kesuksesan akan lahir setelah mengalami kegagalan karena dari kegagalan bisa menuju kepada kesuksesan. Satu yang harus di ingat dalam menghadapi sebuah kegagalan tidak boleh berputus asa. Sebab kunci utama menuju jalan kesuksesan adalah jangan pernah berputus asa. karena keputus asaan yang berlarut-larut tentu akan semakin membahayakan kehidupan kita sendiri. Banyaklah cerita sukses yang terbangun setelah keterpurukan yang berulang-ulang.Seorang juara adalah bukannya seorang yang tidak pernah terjatuh. Melainkan ia sering yang jatuh dan terus bangun.
Ia harus berjuang untuk menaiki tangga demi tangga kemenangan. Dan ketika kemenangan sudah di tangan pun bukan berarti menjadikan ia manusia super yang bisa berada di atas selamanya. Suatu saat pun ia harus menerima kondisi kalahnya kembali. Hidup ini bagaikan roda kadang-kadang berada di atas kadang-kadang juga berada di bawah. Apapun yang terjadi kita harus sabar dan ikhlas menerimanya. Suatu hal yang harus diingat seandainya sudah berada di atas (sukses) kita tidak boleh menyombongkan diri karena itu merupakan cuma titipan sementara di dunia. Apabila kita menjalankan ke jalan yang benar maka akan mendapat amal baik. Namun jika salah di gunakan maka amal buruk menghadang kita nanti di akhirat. Akhirnya, seorang pemenang kehidupan sejati adalah yang tetap bisa menata hati di setiap keadaan, apakah dalam keadaan menang ataupun kalah, keadaan menyenangkan atau tidak menyenangkan.
Penulis features kawan yang berjudul “Hidup Mandiri Awal Dari Kesuksesan” merupakan tugas akhir dari mata kuliah penulisan features yang di bimbing langsung oleh bapak Fairus M. Nur Ibrahim. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua. Amiiiinn ya rabbal ‘alamin……

HIDUP MANDIRI AWAL DARI KESUKSESAN HIDUP MANDIRI AWAL DARI KESUKSESAN Reviewed by atjehislami on March 20, 2020 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.