Desa yang berada di antara gunung dan laut ini memiliki alam yang subur. Udara begitu asri, ketenangan dapat
kita peroleh disini. Maklum saja desa ini terletak di pegunungan yang jauh dari
kebisingan warga kota, dan terbebas dari polusi udara. Tekstur tanah yang tepat
untuk ditanami berbagai jenis bahan pokok dan tanaman pancaroba lainnya membuat
tak hanya para lelaki desa yang akan bekerja di sawah, para wanita juga ikut
andil dalam pengolahan lahan mereka.
Mentari yang terbit
di pagi hari menerobos jendela kamarnya. Terdengar suara ayam berkokok petanda
pagi sudah tiba. Udara pagi menembus pori-pori. Tetesan embun terlihat
disela-sela dedaunan. Terbangun dari mimpi indah, bergegas menyambut hari yang
cerah. Seraya bersenandung, pria berambut pendek separuh ikal ini pun mengambil
handuknya dan menuju kamar mandi. Sambil berlalu, aroma masakan ibu menyeruak
dihidung. Di dapur mungil terlihat ibu sedang menyiapkan sarapan. Melihat rona
wajah anak laki-lakinya berseri, ibu pun tersenyum lembut kearahnya.
Lelaki yang berasal
dari Pidie ini memiliki tinggi badan 170 cm dan gemar meliput berita, browsing
di internet dan jalan-jalan. Dengan melihat wajahnya saja, banyak orang
menafsirkan ia berasal dari negeri Bollywood-Hindia. Karena kulitnya yang
identik hitam legam serta berewokan membuat ia ‘sama tapi tak serupa’ dengan
actor bollywood yang kita tonton dilayar kaca.
Seperti mahasiswa
lainnya pria kelahiran 26 September 1990 ini, ia hidup di perantauan jauh dari
ibunya. Banda Aceh menjadi modal nekat untuknya berjuang hidup. “Saipol”
begitulah ia disapa dalam keseharian oleh teman-temannya. Ia selalu tampil
energik dan periang di kampus.
“Berakit-rakit
dahulu berenang-renang kemudian,” mungkin pepatah ini dapat mewakili kisah
hidup Saiful Anwar. Pria yang senang makan bakso ini merupakan anak tunggal
dari pasangan (alm) Abdul Razak dan Habibah. Tahun 1994, ketika itu Saipol
berumur empat tahun menjadi lembaran awal kesedihan bagi pria penyuka warna
hijau ini. Ayahanda tercinta berpulang ke Rahmatullah. Meninggalkan isteri dan
anak ‘semata wayang’ serta sanak famili terdekat. “Mamak pernah berpesan
setelah abu tiada, Saipol harus bangkit dan melanjutkan hidup,” tegasnya dengan
pandangan nanar menatap jauh kedepan. Memang tak mudah bagi kita untuk
menggapai cita-cita yang kita gantung di langit. Tidak semudah kita membalikkan
telapak tangan dalam sekejap. Dan setiap kita harus bisa menerima. Siap untuk
gagal dan siap juga untuk berhasil.
Kisah hidup didunia
nyata. Memang tak seindah cerita dongeng yang akhir kisahnya ‘happy ending’.
Namun, sekali lagi Saipol harus tegar. Pahitnya hidup harus dikecapnya.
Manisnya kehidupan harus ia syukuri. Saipol berusaha menjalani hidup untuk
lebih baik dari sebelumnya. Dengan menjadikan kekurangan sebagai kekuatan untuk
bertahan hidup. Kelebihan dan bakat diri semakin hari semakin ia kembangkan.
Hal ini dibuktikannya dengan bergabung Muharram Journalism College (MJC) tahun
2011. Ia bertemu teman-teman baru dan bisa dikatakan keluarga baru. Pria dengan
kelebihan lemak ditubuh ini tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan yang
berkepanjangan.
Saipol amatlah di sayang sama ibunya. Saat saya menayai tentang kehidupannya. “Hal apa yang membuat Saipol bisa menjadi seperti sekarang ini?” Lalu ia menghela nafas panjang dan langsung bercerita tanpa berkata apa-apa lagi. “Sebenarnya Saipol jadi seperti sekarang ini adalah karena ibu.” Lalu langsung ia bercerita dengan panjang lebar. Saipol amatlah di sayang sama ibu karena merupakan anak tunggal dari orang tuanya. Ibu merupakan satu-satunya tempat penompang hidup selama ini. Saipol mengungkapkan bahwa ibu tak pernah ada kata lelah untuk mengurusi Saipol. Beliau selesai shalat subuh langsung bergegas menggunakan baju plastik dan mulai berangkat mencari tiram di tambak atau rawa untuk bisa makan. Ia juga berkata bahwa rumah yang ia huni itu sangat tidak layak pakai. Namun walaupun begitu ia hidup bahagia bersama ibunya.
Melihat ibunya bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia merasa sangat sedih, namun apa boleh buat takdir menentukan begini. Walapun udara di pagi hari sangat dingin menusuk ketulang, namun beliau tidak menghiraukannya sama sekali. Karena kerja kerasnya sehingga ibu terlihat sangat kurus. Pada malam hari ibu juga sering menyuruh menggosok minyak di badannya. Walaupun tidak mengatakan kepada anaknya bahwa ia sangat lelah dan badannya pegal-pegal namun ia bisa merasakan apa yang di rasakan ibunya. Menjadi seorang pencari tiram tidaklah mudan karena resikonya sangat tinggi. Bahkan ia sering melihat tangan ibunya terluka terkena pisau sewaktu mencari tiram di tambak atau rawa. Pengorbanan ibu kepada anak sangat luar biasa. Selain mengandung dan melahirkan beliau juga yang menafkahinya lahir dan batin. Tidak akan sanggup membalas jasa kedua orang tua apalagi jasa seorang ibu. Semoga kita tidak pernah menyakiti hati ibu dan termasuk orang-orang yang patuh kepada kedua orang tua. “ibu kau bagaikan cahaya bagi diriku di saat suasana gelap” tangkasnya sambil melihat ke depan dan tersenyum. Seakan-akan ibunya berada di depannya pada saat itu.
Saipol amatlah di sayang sama ibunya. Saat saya menayai tentang kehidupannya. “Hal apa yang membuat Saipol bisa menjadi seperti sekarang ini?” Lalu ia menghela nafas panjang dan langsung bercerita tanpa berkata apa-apa lagi. “Sebenarnya Saipol jadi seperti sekarang ini adalah karena ibu.” Lalu langsung ia bercerita dengan panjang lebar. Saipol amatlah di sayang sama ibu karena merupakan anak tunggal dari orang tuanya. Ibu merupakan satu-satunya tempat penompang hidup selama ini. Saipol mengungkapkan bahwa ibu tak pernah ada kata lelah untuk mengurusi Saipol. Beliau selesai shalat subuh langsung bergegas menggunakan baju plastik dan mulai berangkat mencari tiram di tambak atau rawa untuk bisa makan. Ia juga berkata bahwa rumah yang ia huni itu sangat tidak layak pakai. Namun walaupun begitu ia hidup bahagia bersama ibunya.
Melihat ibunya bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia merasa sangat sedih, namun apa boleh buat takdir menentukan begini. Walapun udara di pagi hari sangat dingin menusuk ketulang, namun beliau tidak menghiraukannya sama sekali. Karena kerja kerasnya sehingga ibu terlihat sangat kurus. Pada malam hari ibu juga sering menyuruh menggosok minyak di badannya. Walaupun tidak mengatakan kepada anaknya bahwa ia sangat lelah dan badannya pegal-pegal namun ia bisa merasakan apa yang di rasakan ibunya. Menjadi seorang pencari tiram tidaklah mudan karena resikonya sangat tinggi. Bahkan ia sering melihat tangan ibunya terluka terkena pisau sewaktu mencari tiram di tambak atau rawa. Pengorbanan ibu kepada anak sangat luar biasa. Selain mengandung dan melahirkan beliau juga yang menafkahinya lahir dan batin. Tidak akan sanggup membalas jasa kedua orang tua apalagi jasa seorang ibu. Semoga kita tidak pernah menyakiti hati ibu dan termasuk orang-orang yang patuh kepada kedua orang tua. “ibu kau bagaikan cahaya bagi diriku di saat suasana gelap” tangkasnya sambil melihat ke depan dan tersenyum. Seakan-akan ibunya berada di depannya pada saat itu.
Tiba-tiba ia di
kejutkan oleh seorang laki-laki dari belakang. Dengan gayanya seperti seorang
polisi tak lain adalah Asrin yang merupakan kawan seruangnya. Lelaki yang
kulitnya sawoe matang ini mengatakan, “kalheu kapeuget tugas konsep iklan pul?”
Ia berkata sambil melihat ke arah Asrin “siat teuk wate woe kuliah ku peuget”.
Lalu laki-laki selalu berpenampilan rapi ini mengatakan, “oh loen meujak u
pustaka meu cari bahan” sambil tersenyum kepada saya ia menuju ke pustaka. Lalu
Saipol melanjutkan ceritanya yang sempat terputus tadi.
Empat tahun setelah
kepergiaan ayahnya. Ibu ingin menikah lagi dengan seorang duda, tentunya ada
sandaran harapan bisa membantu kesulitan ini. Akhirnya Saipol dan sanak keluarganya
pun mengijinkan ibu menikah karena usia beliau yang masih muda berharap semoga
bisa membantu kehidupannya. Namun harus di garis bawahi, ayah kandung tidak
akan sama dengan ayah tiri. Berharap bisa hidup menjadi senang dengan kehadiran
seorang ayah. Ia juga memiliki seorang kakak dari anak ayahnya, sebut saja
kakak tiri. Ayah dan ibu sangatlah menyayangi kami berdua sehingga sudah
seperti saudara kandung sendiri. Walaupun ada perselisihan paham antara ayah
tirinya dan Saipol. Namun diantaranya selalu ada pertengahan yaitu ibu.
Walaupun sudah ada
yang menafkahi kami. Namun ibu tetap juga bekerja untuk dapat membantu
kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ayahnya berprofesi sebagai pelaut jarang
berada di rumah. Kadang-kadang ia pulang sekitar dua minggu sekali kerumah, itu
pun tergantung dari hasil tangkapan ikan di laut. Selain bekerja ibunya juga
harus mngurusi keluarganya seorang diri. Karena terlalu kelelahan ibunya jatuh
sakit. “Saya pikir ibu hanya sakit biasa namun ternyata sakitnya berlanjut hingga
berbulan-bulan,” tuturnya. Sehingga ia membutuhkan uang untuk bisa membawa
ibunya ke rumah sakit.
Karena tidak ada
uang akhirnya ibu dibawa kerumah nenek dengan harapan saudara-saudara yang
tinggal dikota mau membantu. Namun apa yang terjadi tidak ada yang mau
membantu. Mereka beralasan bahwa mereka banyak tanggungan dan tidak bisa
membantu ibunya. Diantara saudara-saudara kandung ibunya, cuma beliau yang
nasibnya tak seberuntung saudaranya yang lain. Terpaksa ibunya harus berobat ke
tabib dengan obat tradisional. Walaupun sudah di kasih obat sama tabib namun
ibunya juga tidak kunjung sembuh malah merasakan tambah sakit.
Sebagai seorang
anak ia tak pernah putus asa dalam mendo’akan kesembuhan untuk ibunya. Lantunan
surat yasin selalu di bacakan disaat ibunya sedang sakit-sakitan. Alhamdulilah
berkat do’a, ibu pun perlahan mulai membaik kondisinya. Hari demi hari ibunya
terasa sehat dan hilang dari rasa sakit yang di serangnya beberapa bulan ini.
Sejak ibunya sembuh
dari penyakit, beliau memutuskan untuk bekerja lagi. Namun kerjanya berbeda
dari dulu yang cuma mencari tiram. Namun sekarang dengan membuka sebuah usaha
jualan gorengan dan lontong di setiap pagi serta menitipkannya ke beberapa
warung. Saipol sangat bersyukur dagangan ibunya semakin maju. Namun hal yang
tidak di inginkan kembali menimpanya. Saipol, ibu beserta kakak tirinya harus
angkat kaki dari rumah kakek dan nenek. Karena atas hasutan orang-orang yang
tidak suka melihat usaha ibunya yang mulai berkembang. Dengan ikhlas dan sabar
mereka pun menerima dan pindah ke sebuah rumah panggung.
Ibunya yang belum
sembuh sempurna ini sering mengalami pendarahan ketika beliau melakukan
pekerjaan berat tapi bagaiamanapun juga memang sudah menjadi kewajiban seorang
ibu yang mengurus anaknya yang masih belum mandiri dan masih bergantung sama
beliau. Walaupun ibunya dalam keadaan sakit-sakitan namun masih juga bekerja
untuk menghidupi anak-anaknya. Sekalipun pekerjaan tersebut juga dapat
membahayakan kesehatan beliau. Saipol merupakan anak yang selalu berbakti
kepada orang tuanya, sehingga beliau ingin melihat anak satu-satunya bisa
menjadi orang yang sukses. “Walaupun di sibukkan dengan pekerjaannya namun ibu
tidak pernah lupa kepada Allah, selalu meluangkan waktunya untuk dapat
menunaikan perintah Allah tepat waktu. Beliau adalah sosok ibu yang sangat
sempurna bagi saya,” ujarnya.
Didikan beliau
selama 23 tahun yang tidak ada pernah ada kata lelah agar bisa tumbuh seorang
sosok pemimpin bagi bangsa. Sebagai seorang anak ingin sekali berada di dekat
beliau untuk bisa menemaninya di waktu sakit-sakitan karena akibat kelelahan
dalam bekerja. Namun apa daya ia harus merantau untuk sebuah cita-cita dan
keinginan seorang ibu agar anaknya menjadi orang sukses. “Sebenarnya kalau
bukan karena ibu, mungkin saya akan bekerja saja dan tidak kuliah lagi”,
katanya. Karena tidak mau melihat beliau yang sakit-sakitan harus bekerja.
Namun apa boleh buat ia harus menamatkan studinya di perguruan tinggi.
Tiba-tiba Saipol
berhenti bercerita. Lalu saya bertanya, “kenapa diam pol?”. Ia menjawab “
Sebelum Saipol cerita mengenai proses masuk kuliah bagaimana kalau Saipol
cerita dulu dari sekolah, gimana menurut Oja?” “Boleh banget pol” sahut saya.
Kemudian ia menghela nafas dan mulai bercerita panjang lebar. Dari ceritanya
penulis dapat menyimpulkan isi ceritanya dan mulai menulis di sebuah laptop
sebagai berikut.
Ketika di SD ia
mendapat beasiswa dari sekolahnya sampai ketika ia masuk ke MTsN masih juga
mendapat beasiswa. Sekolahnya yang berada sekitar 2 Km dari rumahnya, terpaksa
ia lalui dengan menaiki sepeda. Saipol harus melewati tanjakan dan jalan yang
berbatu penuh semak untuk bisa sampai ke sekolah. Untuk naik bus tidak cukup
karena ibu hanya bisa memberi uang jajan sebesar Rp.200 rupiah saat menduduki
kelas 1 tahun 1996 selama 2 tahun. Namun semenjak kelas 3-5 uang jajan
bertambah Rp 200 rupiah sehingga menjadi Rp 500 rupiah. Sedangkan saat kelas 6
tahun 2001 ia mendapat jajan dari ibunya 1.000, merupakan uang jajan terbesar
bagi Saipol saat itu.
Setelah tamatan SD
ia melanjutkan ke MTsN. Dsana ia memiliki pengalaman yang tidak bisa di lupakan
sampai sekarang ini. Pada saat menduduki MTsN, ia pernah dipukuli oleh gurunya
gara-gara membuat iseng dengan kawan-kawannya. Walaupun Saipol anak sedikit
iseng namun ia juga termasuk murid yang pintar dan di sayangi oleh teman-teman
serta gurunya. Pada hari memperingati kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, ia
mengikuti sebuah perlombaan dan meraih juara satu. Selain itu Saipol juga tidak
mau ketinggalan dalam berorganisasi sehingga ia putuskan untuk bergabung di
OSIS. Disitulah ia mulai mengasah bakat dengan berakting di sebuah di drama.
Dengan bergabung dalam sebuah kelompok untuk melakukan pementasan drama tentang
kisah hidup Nabi Muhammad SAW. Saipol dengan percaya diri menampilkan ekspresinya
di depan umum. Pernah suatu hari, ia membuat ibunya sedikit kesal dengan
tingkah laku anaknya. Sesampai di rumah ibunya menasehati Saipol agar selesai
sekolah langsung pulang ke rumah. Namun hal tersebut tidak diindahkan sama
Saipol malah ia membantu pamannya berjualan mainan anak-anak sehingga baru
sampai ke rumah jam 17:00 wib.
Pada April 2004
saat itu Saipol menduduki kelas III MTsN Kembang Tanjung. Kepala sekolah
menganjurkan Saipol untuk pindah ke MTsS Al-Qamal Keunaloi, Aceh Besar. Karena
pesantren tersebut lebih berkualitas dari pada sekolah dikampung. Alhamdulillah
Saipol termasuk salah satu di antara murid-murid yang terpilih pada saat itu.
Akhirnya mereka menerima permintaan pimpinan Dayah untuk pergi ke Pesantren
Terpadu tersebut. Namun sekolah yang akan mereka masuk itu masih swasta.
“Walaupun begitu kami tidak putus asa dan tetap senang dan bahagia
menjalaninya,” ujarnya. Karena bagi mereka itu merupakan suatu anugerah untuk
dapat belajar di kota besar. Apalagi itu merupakan sebuah pesantren yang penuh
dengan didikan agama. Dan disanalah ia mendalami ilmu bahasa Arab, bahasa
Ingris dan juga ilmu Komputer. Berkat do’a orangtua dan pimpinan pesantren
tersebut akhirnya mereka lulus dengan nilai yang memuaskan.
Pada suatu hari,
pimpinan yayasan pesantren terpadu bertemu dengannya dan beliau mengajak Saipol
untuk pergi ke rumah dinas beliau di Banda Aceh. Saat itu bulan ramadhan dan
mereka singgah ke tempat beliau yang berada di Banda Aceh. Bapak yang memiliki
hati mulia ini menjamu mereka untuk buka puasa bersama di rumahnya. Setelah itu
mereka shalat terawih bersama-sama. Sewaktu lagi duduk di ruang tamu tiba-tiba
datang laki-laki dengan pakaian rapi. Lelaki tersebut merupakan ajudan beliau.
Ajudan tersebut memberitahukan kepada Saipol agar mengikutinya ke sebuah
ruangan. Di ruang tersebut tampak sebuah meja yang tersusun dengan map dan
kertas-kertas. Di situ mereka berbincang-bincang banyak hal dan beliau juga
menyedekahkan beberapa helai baju untuknya. Setelah lama berbincang-bincang
akhirnya Saipol meminta izin untuk pulang karena jam telah menunjukkan pukul
24:00 wib. Tak lupa pula masing-masing dari mereka di bekali dengan oleh-oleh
untuk di bawa pulang ke pesantren. Akhirnya mereka pulang ke pesantren dengan
hati yang gembira.
Tanggal 26 Desember
2004 terjadinya gempa dan tsunami di Aceh. Di situ pesantren tempat Saipol
belajar mengalami sedikit kemerosotan, seperti dari segi makanan dan lain-lain.
Beberapa hari setelah tsunami, pimpinan yayasan mulai turun langsung melihat
santrinya yang sudah kekurangan beberapa kebutuhan dan beliau juga mendatangkan
beberapa relawan dari berbagai negara untuk membantu yayasan tersebut.
Alhamdulillah berkat dan do’a akhirnya yayasan kembali normal lagi.
Pada tahun 2005
Saipol menamatkan MTsS Al-Qamal. Karena pada saat itu belum ada dibuka yang
sederajat dengan MAN/SMA rencananya ingin melanjutkan di Kampung. “mengapa kamu
tidak melanjutkan sekolah di Banda Aceh nanti bisa tinggal di rumah saya dan
kamu boleh mengabdi di pesantren ini”, kata pimpinan yayasan seraya merayu agar
Saipol bisa tinggal di Banda Aceh. Lalu Saipol menjawab “ Insya Allah pak, saya
tanya ibu dulu karena ibu menyuruh saya untuk sekolah di Kampung”.
Akhirnya ia
putuskan bersekolah di MAN Tanjong. Pada saat Saipol ingin melanjutkan sekolah MAN,
ia hanya iseng meminta dan mengisi formulir pendaftaran tersebut. Karena dalam
penyerahan formulir peraturanya mesti membayar dengan uang sejumlah Rp 15.000.
Menurutnya hal yang sangat mustahil baginya dapat mempunyai uang sebesar itu.
Tapi ia nekat menyerahkan formulir tersebut dengan alasan bahwa ia akan
membayar saat memasuki Masa Orientasi Siswa (MOS).
Akhirnya atas izin
Allah, panitia penerimaan siswa baru percaya padanya. Dan ia membayar uang
pendaftaran dengan cicilan perbulan. Pada saat di MAN ia dibekali sebanyak Rp
2.000, itu termasuk untuk ongkos pulang pergi. Semakin kedepan maka mata uang
semakin naik. Jadi makanan yang di jual juga terasa mahal bagi siswa yang
memiliki jajan Rp 2.000. Sehingga ia sering kelaparan karena tidak cukup uang untuk
bisa membeli makanan karena ia harus memikirkan dua kali. Dengan akal
cerdiknya, ia nebeng kepada kawannya saat pulang. Sehingga uangnya bisa
digunakan untuk membeli makanan. “oh iya selama di MAN Saipol aktif bermain
Drama/Teater dan sering tampil di berbagai event”, katanya seraya tersenyum.
Kepala sekolah amat menyayangi Saipol karena ia suka membantu teman-temannya
dikala susah. Dan ia juga tidak mau ketinggalan organisasi seperti berada di
MTsN dulu. Sehingga ia putuskan untuk bisa bergabung lagi dalam kegiatan OSIS.
Setelah tamat dari
MAN ia sempat nganggur selama dua tahun di karenakan tidak mendukungnya ekonomi
untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tidak seperti teman-temannya yang lain
yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Walaupun begitu ia tidak putus asa
dan dengan sabar ia menjalani hidup serta membantu orang tuanya di kebun.
Pada suatu hari
ketika sedang menanam kacang. Tiba-tiba teleponnya berdering. Saipol langsung
mengangkatnya dan suara itu tak asing lagi baginya. Suara tersebut merupakan
anak dari pimpinan yayasan. Dalam perbincangan tersebut ia di suruh ke Banda
Aceh untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Akhirnya Saipol bercerita kabar
gembira kepada ibunya dan ibunya pun memberi izin. Sesampai di Banda Aceh ia
bertemu dengan anak pimpinan yayasan tersebut dan ia diberikan uang sebesar Rp
1.000.000 untuk pendaftaran. Karena kerendahan Hati beliau akhirnya ia bisa
melanjutkan Kuliah sampai sekarang. Pada waktu itu pemimpin yayasan tersebut
telah menganggap Saipol sebagai anak sendiri. Pada tahun 2009 beliau terpilih
menjadi anggota DPR-RI. “Beliau adalah sosok masyarakat yang bisa mengayomi
seluruh masyarakat, tanpa memandang pangkat dan jabatan” ujarnya.
KPI (Komuniksi Penyiaran Islam) merupakan pilihan kedua saat ia mendaftar di IAIN Ar-Raniry karena pilihan pertama adalah bahasa Arab. “Saya memilih jurusan bahasa Arab karena ibu ingin saya menjadi guru,” ujarnya. Karena menghargai ibu makanya pilihan pertama adalah bahasa Arab padahal ia dari pertama sudah tertarik di KPI. Setelah selang beberapa hari pengumuman kelulusan IAIN keluar di koran. Ia langsung meliat dengan seksama dan alhmamdulillah namanya tercantum sebagai salah satu mahasiswa yang akan belajar di Perguruan Tinggi IAIN Ar-Raniry. Ibunya juga turut bahagia anaknya bisa lulus walaupun tidak sesuai harapan ibunya menjadi seorang guru.
KPI (Komuniksi Penyiaran Islam) merupakan pilihan kedua saat ia mendaftar di IAIN Ar-Raniry karena pilihan pertama adalah bahasa Arab. “Saya memilih jurusan bahasa Arab karena ibu ingin saya menjadi guru,” ujarnya. Karena menghargai ibu makanya pilihan pertama adalah bahasa Arab padahal ia dari pertama sudah tertarik di KPI. Setelah selang beberapa hari pengumuman kelulusan IAIN keluar di koran. Ia langsung meliat dengan seksama dan alhmamdulillah namanya tercantum sebagai salah satu mahasiswa yang akan belajar di Perguruan Tinggi IAIN Ar-Raniry. Ibunya juga turut bahagia anaknya bisa lulus walaupun tidak sesuai harapan ibunya menjadi seorang guru.
Sekarang ini Saipol
mulai disibukkan dengan aktivitasnya bekerja di sebuah media. Dan uang dari
hasil kerjanya itu ia gunakan untuk tambahan uang kuliah, memang penghasilan
dari bekerja itu tidaklah terlalu banyak namun hasilnya di dapatnya bisa
membantu untuk kehidupannya sehari-hari. Dari hasil bekerja di media tersebut
menjadi kekuatan besar untuk meraih cita-citanya, ingin menjadi reporter yang
professional yang di bantu biaya oleh orangtua angkatnya. Ia pun kuliah di
jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) fakultas Dakwah yang bernaungan di
bawah IAIN yang berada di Darussalam yang letaknya jauh dengan rumah
tinggalnya.
Dengan sepeda
motornya, ia pergi menuntut ilmu. Melewati jalan raya yang penuh dengan
kemacetan , menuju ke sebuah Universitas. Bangunan yang megah tersebut terlihat
asri saat memasuki perkarangan kampus IAIN. Nampak di pinggir jalam
mahasiswa-mahasiswi berjalan menuju kampusnya msaing-masing. Dan juga terlihat
yang mengenderai motor.
Namun pria asli Glumpang
ini selalu bersyukur,walaupun gaji harian yang diterimanya lebih kecil
dibandingkan rekan-rekan kerja lain. Saipol bekerja sampingan di luar rutinitas
kampus “Alhamdulillah, walau sedikit asal uang yang saya dapatkan halal,” kata
Saipol penuh syukur. Walau digaji kecil, ia harus tetap bekerja karena kalau
tidak masuk kerja, maka harus selalu mengandalkan ibunya. “Kasian ibu sendiri
di kampung cari uang banting tulang untuk saya” menurutnya tiap hari harus
mengeluarkan uang minimal Rp 20.000/hari. Belum lagi uang SPP yang harus ia
keluarkan setiap enam bulan sekali sebesar Rp 650.000.
Akhirnya ia
mengakhiri cerita tersebut dengan wajah lelah karena sembari memasukkan laptop
ke dalam tasnya. Ia mengatakan “Oja nanti Saipol cerita lagi, Saipol harus
pergi karena ada janji dengan orang”. “Iya makasih banyak pol yang sudah
menceritakan kehidupan Saipol dan mohon ma’af yang sebesar-besarnya mungkin
menyinggung perasaan”, ucap saya. Ia menyahutnya “tidak apa-apa, Saipol senang
bisa berbagi cerita dengan teman-teman. Lalu ia ke luar ruangan menuju tempat
parkiran.
Walau dalam
keterbatasan perekonomian keluarga, Saipol tetap bersabar dan menjalin hubungan
baik dengan para tetangga atau teman. Ia tidak pernah sungkan-sungkan dalam menolong
orang yang lagi kesusahan. Karena kebaikannya ini, dia dikenal banyak orang
hingga lingkungannya.
Kesulitan yang
dialami bukan tak ada, biaya perkuliahan yang sekarang semakin tinggi membuat
Saipol sesekali kebingungan. Namun karena banyak orang yang mengasihinya
sehingga ia banyak di bantu oleh kerabatnya. Sebuah perjuangan besar dan
dibayar mahal oleh keberhasilan Saipol membuat ia hampir menamatkannya di
sebuah universitas. Harapan dan juga cita-cita tingginya ingin ia perlihatkan
kepada ibunya pada tahun 2014 kelak nanti. Dengan membawa sebuah ijazah untuk
memperlihatkan kepada ibunda tercintanya.
Kesuksesan dari
sebuah perjuangan besar yang hanya dengan modal kemandirian dan bekerja keras
hampir mampu mewujudkan cita-citanya yang berada di ambang pintu kesuksesan.
Insya Allah dengan kesabaran, ketabahan, berusaha, dan berdo’a kepada Allah
maka apa yang kita cita-citakan akan dapat tercapai.Saipol yang sabar bukan
berarti dia tidak pernah mengalami kegagalan. Namun ia sering mengalami
kegagalan, maka dari kegagalan itu ia mulai mengambil pelajaran dan hikmah apa
yang menimpa dirinya. Kegagalan merupakan sebuah sarana supaya bisa lebih kuat
dan untuk terus bangkit kembali.
Diibaratkan
kegagalan sebagai hujan meski hujan sebenarnya bisa membawa kepada kebaikan,
dan kesuksesan sebagai matahari. Sehingga untuk bisa melihat pelangi, perlu
hujan dulu yang kemudian disinari matahari. Setelah muncul pelangi semua
kesedihan akan menghilang. Yang ada adalah fenomena keindahan pelangi.Cuma
emang kadang sebagai manusia, kondisi down ketika gagal itu biasa terjadi.Dalam
kondisi seperti itu, peran dan kehadiran seorang sahabat menjadi sangat
berarti.
Sahabat yang bisa
mencerahkan suasana yang meredup. Disaat kita terpuruk sahabat yang memotivasi
untuk terus maju dan bangkit. Tak heran jika Saipol memiliki banyak teman. Ia
dalam berkawan tidak pernah melihat gender, status, umur dan sebagainya.
“Banyak kawan hidup akan mudah,” tangkasnya.
Kesuksesan akan
lahir setelah mengalami kegagalan karena dari kegagalan bisa menuju kepada
kesuksesan. Satu yang harus di ingat dalam menghadapi sebuah kegagalan tidak
boleh berputus asa. Sebab kunci utama menuju jalan kesuksesan adalah jangan
pernah berputus asa. karena keputus asaan yang berlarut-larut tentu akan
semakin membahayakan kehidupan kita sendiri. Banyaklah cerita sukses yang
terbangun setelah keterpurukan yang berulang-ulang.Seorang juara adalah
bukannya seorang yang tidak pernah terjatuh. Melainkan ia sering yang jatuh dan
terus bangun.
Ia harus berjuang
untuk menaiki tangga demi tangga kemenangan. Dan ketika kemenangan sudah di
tangan pun bukan berarti menjadikan ia manusia super yang bisa berada di atas
selamanya. Suatu saat pun ia harus menerima kondisi kalahnya kembali. Hidup ini
bagaikan roda kadang-kadang berada di atas kadang-kadang juga berada di bawah.
Apapun yang terjadi kita harus sabar dan ikhlas menerimanya. Suatu hal yang
harus diingat seandainya sudah berada di atas (sukses) kita tidak boleh
menyombongkan diri karena itu merupakan cuma titipan sementara di dunia.
Apabila kita menjalankan ke jalan yang benar maka akan mendapat amal baik.
Namun jika salah di gunakan maka amal buruk menghadang kita nanti di akhirat.
Akhirnya, seorang pemenang kehidupan sejati adalah yang tetap bisa menata hati
di setiap keadaan, apakah dalam keadaan menang ataupun kalah, keadaan
menyenangkan atau tidak menyenangkan.
Penulis features
kawan yang berjudul “Hidup Mandiri Awal Dari Kesuksesan” merupakan tugas akhir
dari mata kuliah penulisan features yang di bimbing langsung oleh bapak Fairus
M. Nur Ibrahim. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita
semua. Amiiiinn ya rabbal ‘alamin……
HIDUP MANDIRI AWAL DARI KESUKSESAN
Reviewed by atjehislami
on
March 20, 2020
Rating:
Reviewed by atjehislami
on
March 20, 2020
Rating:

No comments:
Post a Comment