Amma ba ‘du, sesungguhnya perintah Ilahi turun
dari langit seperti tetesan hujan, membawa kepada setiap orang apa yang
ditentukan baginya, baik berlimpah atau sedikit. Maka apabila seseorang di
antara Anda sekalian melihat pada saudaranya banyak keturunan atau kekayaan,
hal itu tak boleh menyebabkan fitnah padanya. Selama seorang Muslim tidak
melakukan perbuatan yang apabila terbuka ia harus menundukkan matanya (karena
malu) dan yang dengan itu orang rendah diberanikan, ia seperti penjudi yang
mengharapkan bahwa tarikan pertama panahnya akan memberikan keuntungan
kepadanya dan juga menutupi kerugiannya sebelumnya.
Demikian pula, seorang
Muslim yang bebas dari kedurhakaan mengharapkan satu dari dua hal yang baik:
panggilan Allah, dan dalam hal itu apa saja yang diberikan Allah adalah baik
baginya; atau rezeki Allah. la telah mempunyai anak dan harta, sedang iman dan
kehormatannya ada bersamanya. Sesungguhnya harta dan anak-anak adalah kebun
dunia ini, sedang amal kebajikan adalah kebun untuk dunia yang akan datang.
Kadang-kadang Allah menggabungkan semua itu pada satu orang.
Ingatlah kepada Allah
terhadap apa yang telah diperingatkan-Nya kepada Anda, karena la telah menyuruh
Anda untuk bertakwa kepada-Nya dan terus takut kepada-Nya sampai tak ada dalih
yang diperlukan untuk itu. Beramallah tanpa pamer atau niat untuk didengar,
karena apabila seseorang beramal demi seseorang selain Allah maka Allah akan
mengalihkan dia kepada orang itu. Kami memohon kepada Allah (untuk
mengaruniakan kepada kita) kedudukan para syahid, sahabat orang berke-bajikan
dan persahabatan dengan para nabi.
Wahai manusia,
sesungguhnya tak seorang pun (meski ia kaya) dapat berbuat tanpa kerabatnya dan
bantuan tangan dan lidahnya. Hanya merekalah dukungannya dari belakang yang
dapat menjauhkan kesukaran darinya, dan merekalah yang paling baik kepadanya
apabila kesengsaraan menimpanya. Kenangan yang baik yang Allah pelihara di
antara manusia lebih baik daripada harta yang diwarisi orang lain dari dia.
Dari Khotbah yang Sama
Lihatlah! Apabila seseorang
di antara Anda sekalian mendapatkan kerabat Anda dalam keadaan perlu atau dalam
kelaparan, ia tak boleh menolak untuk menolongnya dengan apa yang tidak akan
menambah apabila pertolongan ini tidak diberikan, dan tidak akan berkurang
dengan menafkahkannya sedemikian itu. Barangsiapa menahan tangannya dari
(menolong) kerabatnya, ia hanya menahan satu tangan, tetapi pada saat ia
memerlukan, banyak tangan tertahan dari menolong dia. Orang yang berperangai
manis dapat mempertahankan cinta kaumnya untuk selaman.
ghafirah berarti banyak, berlimpah-limpah;
kata ini berasal dari ungkapan Arab Jammul-ghafir atau Jama’ul ghafir yang
berarti kerumunan padat. Dalam beberapa versi sebagai ganti ghaffrah muncul
‘afwatan. ‘Afwah berarti bagian yang baik atau pilihan dari sesuatu. Dikatakan
Akaltu afwatath-tha’am, yang berarti Saya telah memakan makanan pilihan. Man
yaqbidh yadahu ‘an ‘asyfratihi (Barangsiapa menahan tangannya dari kerabatnya)
dan seterusnya, menunjukkan betapa indahnya makna kalimat ini. Amirul Mukminin
memaksudkan bahwa orang yang tidak menolong kerabatnya sendiri hanya menahan
tangannya; tetapi, bilamana ia memerlukan bantuan, simpati dan dukungan mereka
maka ia tidak akan mendapatkan simpati dan pertolongan dari sekian banyak
tangan mereka
Manusia diberikan 2 jalan ada yang buruk dan ada yang baik,
Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat Asy Syams ayat 7-10 yang arfinya “demi
jiwa demi diri serta penyempurnaan penciptaannya, lalu Allah itu mengilhamkan
jalan ke dalam jiwa itu berbuat kefasikan berbuat kejahatan serta berbuat
ketaqwaan, sungguh beruntunglah orang yang selalu mensucikan bathinnya,
mensucikan hatinya, mensucikan jiwanya dan sungguh merugilah mereka yang selalu
mengotorinya“.
Dari
firman Allah tersebut kita mengetahui dalam tubuh ini ada satu unsur yang
disebut dengan jiwa atau nafs. Dalam wadah yang disebut jiwa atau nafs itu
Allah SWT memberikan 2 (dua) jalan, yaitu jalan untuk berbuat baik ataupun
jalan untuk tldak berbuat baik, Apakah jalan untuk melakukan perbuatan positif
ataupun untuk perbuatan yang negatif, yang menguntungkan atau merugikan,
bergantung kepada manusianya.
Dalam
ayat lain Allah berfirman bahwa jika kalian beriman silakan, jika kafir
silakan, terbuka jalannya. Mau diapakan wadah ini tergantung pada kita.
Bukankah Allah SWT telah memberikan 2 (dua) wadah fujurohaa atau taqwahaa,
jalan untuk berbuat kejahatan dan jalan untuk berbuat kebaikan.
Setelah itu Allah mengingatkan kepada kita, qod aflaha
man dzakkaha waqadkhaba man dassaha, beruntung orang seandainya wadah itu
diisi oleh akhlakul karimah, diisi dengan sifat-sifat yang terpuji. Amat
rugilah mereka jika wadah itu dipenuhi dan diisi oleh sifat-sifat kejahatan dan
kemudaratan, apakah yang datangnya dari hawa nafsu, syetan, iblis maupun
sifat-sifat hewaniah.
Jika merujuk kepada Al qur’an, dan memperhatikan hadits-hadits
Nabi Muhammad SAW serta melihat pada karakter-karakter manusia-manusia yang
terdahulu mulai para nabi dan rasul, para sahabat hingga pada zaman sekarang
ini banyak, sifat-sifat; penyakit hati yang bersarang dalam jiwa kita. Kita
harus waspada kalau kita menyimpan penyakit-penyakit hati, karena apapun yang
kita ucapkan apa yang kita lihat dan apa yang kita hasilkan dalam pemikiran,
yang berwujud dalam perbuatan sehari-hari adalah tergantung isi hati kita
masing-masing.
Kalau
hati atau qolbunya bersih, suci dan diisi sifat-sifat yang baik-baik tentu yang
terpancar dari penglihatan, pendengaran dan pemikiran dalam tindak tanduk
perbuatan kita sehari-hari tentu sesuai isi hati yang baik-baik, tetapi
seandainya penglihatan, pendengaran dan pemikiran yang selalu negative, mata
kita sulit untuk berpaling dari kemaksiatan. Pendengaran kita sulit untuk
berpaling dari pendengaran negative, pikiran kita akan selalu buruk sangka.
tingkah laku kita susah diarahkan.
Sombong dan angkuh adalah penyakit hati
Dalam sifat sombong dan sifat angkuh telah dicontoh oleh iblis
latnatullah, ketika Allah SWT memerintahkan untuk bersujud kepada Adam as
sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqaroh ayat 34 yang artinya “Dan
(ingatlah ) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat : ‘Sujudlah kamu kepada
Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblls. Ia enggan dan sombong dan adalah ia
termasuk golongan orang-orong kafir“.
Kemudian
Iblis menanggapi perintah yang Allah sampaikan dengan sikap menyombongkan diri,
karena itu iblis dicap oleh Allah sebagai makhluk yang terkutuk. Jika kita
sebagai hamba Allah mengikuti jejak iblis maka jadilah kita sebagai makhluk
yang terkutuk sama seperti iblis.
Faktor-faktor
yang menyebabkan kesombongan adalah kekayaan, kecantikan, kegagahan,
keilmuannya, pangkat serta jabatannya. Akibat dari sifat yang dimilikinya ini
tidak mau lagi menerima kebenaran dari orang lain serta menganggap enteng
terhadap orang lain.
Sifat iblis yang lain adalah sifat rakus dan tamak itu awalnya
kata nabi telah ditampilkan oleh Adam as, karena tertipu oleh iblis
latnatullah. Iblis menjanjikan kepada Adam as, dalam surat Al A’raaf ayat
20-21, yang artinya “Hai Adam aku ini penasehatmu yang aktif jika kamu
terima nasehatku syukur dan tidak kau terima tidak ada masalah, Tahukah kamu
mengapa , Allah melarangmu untuk mendekati pohon khuldi ini, lalu iblis
mengatakan pohon ini yang mengekalkanmu hai Adam, jika anda dekati pohon itu,
maka kamu akan kekal selama-lamanya di surga“.
Ini merupakan tipuan dan rayuan syetan dan iblis latnatullah,
dimana Adam as mendekatinya dan makan buah tersebut serta auratnya terbuka,
akhirnya Adam pun sadar karena telah ditipu oleh syetan dan iblis latnatullah,
maka kemudian Adam as bertaubat kepada Allah “Robbana dzolamnaa anfushanaa
wa inlam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minalkhosirinna – Ya Allah,
kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau telah mengampuni kami
dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang
merugi“.
Ada
lagi penyakit hati yang merupakan jejak iblis dan syetan selalu mengganggu.
Yaitu sifat-sifat dengki ini sudah ditampilkan sejak dahulu oleh anak Adam as
yaitu qabil, yang telah membunuh adik kandungnya yang bernama habil, karena
apa?, karena sifat dengki kepada adiknya karena Allah menerima qurbannya
sedangkan qurban qabil ditolak oleh Allah. Dalam hadits nabi bahwa kesombongan,
ketamakan, kerakusan serta kedengkian itu merupakan sifat-sifat syetan dan akan
menjadi sumber-sumber dari malapetaka dan sumber maksiat.
Kalau
kita perhatikan zaman sekarang ini, kenapa para pengusaha, para pejabat dan
para wakil-wakil rakyat tidak mau mendengar nasehat-nasehat yang benar. Karena
sifat kesombongannya dan keangkuhannya, mereka menganggap bahwa pendapatnyalah
yang benar sementara pernyataan orang lain itu salah, ini merupakan sifat-sifat
syetan dan iblis latnatullah.
Rasa syukur atas pemberian Allah SWT
Penyakit hati seperti sombong, tamak, rakus dan
dengki seyogyanya disingkirkan jauh-jauh dari jiwa kita masing-masing,
seandainya sifat tersebut kita singkirkan, maka insya Allah kita menjadi hamba
Allah yang terhormat dihadapan Allah, Bagaimana caranya untuk menghilangkan
sifat-sifat syetan dan iblis itu adalah sebagaimana firman Allah dalam surat Al
Ashar ayat 3 yang artinya “kecuall orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati dalam kesabaran“.
Salah
satu cara menghilangkan sifat tamak dan rakus dengan cara menanamkan rasa
syukur dan menikmati pemberian Allah apa adanya. Sifat dengki dan iri hati bisa
kita hindarkan, dengan cara menerima suatu ujian dan musibah, karena segala
sesuatu yang terjadi dengan izin oleh Allah SWT.
Oleh
karena itu jika terjadi suatu kemewahan, pangkat, jabatan serta harta yang
berlimpah kita harus bersyukur dan jika Allah memberikan suatu kesusahan dan
kesengsaraan kita harus bersabar. Syukur jika berada di atas dan sabar bila
berada di bawah. Mudah-mudahan kita selaku makhluk Allah SWT yang sempurna
mampu mensyukuri dan menikmati pemberian dari Allah SWT dan terhindar dari
sifat-sifat syetan dan iblis latnatullah.
Menjaga Iri Hati
Reviewed by atjehislami
on
May 11, 2012
Rating:
Reviewed by atjehislami
on
May 11, 2012
Rating:

No comments:
Post a Comment